Dari Kampung Baru Palanro ke Gelar Profesor, Muhammad Fadli Ukir Sejarah di Barru
Barru, lensa-aktual.com
Muhammad Fadli Alimuddin mencatat sejarah sebagai profesor termuda di Kabupaten Barru pada usia 37 tahun. Putra asal Kampung Baru, Kelurahan Palanro, Kecamatan Mallusetasi itu resmi menerima gelar Profesor Kehormatan (Honoris Causa) di bidang Pendidikan Islam Kontemporer dari International Islamic University of Sharia Mesir pada 12 Mei 2026.
Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Barru, khususnya warga Mallusetasi. Gelar profesor merupakan salah satu capaian tertinggi dalam dunia akademik yang diperoleh melalui proses panjang, dedikasi riset, pengabdian masyarakat, serta kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
Muhammad Fadli lahir dan besar di lingkungan keluarga religius dan terdidik. Ia merupakan anak kedua dari pasangan H. Alimuddin Hamma’da dan Hj. Rusmiati Latif.
Gelar profesor kehormatan yang diraihnya didasarkan pada sejumlah capaian akademik dan kontribusi di bidang pendidikan Islam. Salah satunya melalui publikasi jurnal internasional berjudul Unimplemented Policy Against the Implementation of Madrasah Diniyah Takmiliyah Education in Barru Regency.
Selain itu, ia juga telah menerbitkan sejumlah buku ber-ISBN yang mendapat pengakuan nasional, di antaranya Pendidikan Islam dan Realitas Sosial, Kompetensi Guru dalam Mengembangkan Pembelajaran Efektif, serta Literatur Materi-Materi Khutbah Jum’at Berbasis Kontemporer.
Muhammad Fadli juga dinilai memiliki kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan keagamaan melalui pendirian madrasah dan sekolah agama. Sebelum menerima gelar profesor kehormatan, ia diketahui telah melalui proses usulan lembaga terakreditasi dan uji kelayakan akademik.
Perjalanan kariernya dimulai dari seorang guru honorer di SMAN 1 Mallusetasi. Ia kemudian merintis Madrasah Diniyah Awaliyah, menjadi Relawan Demokrasi KPU Barru, Pendamping Lokal Desa (PLD) Kabupaten Barru, dosen tetap di STIA Al Gazali Barru, dosen Program Pascasarjana UMPAR, hingga akhirnya menjadi ASN di Kementerian Agama Kabupaten Barru.
Keberhasilan Muhammad Fadli dinilai menjadi simbol lahirnya generasi intelektual dari wilayah utara Kabupaten Barru. Sosoknya dianggap mampu membawa semangat pembaruan pendidikan dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya di bidang akademik dan pengabdian masyarakat.
Dalam dunia akademik, gelar profesor bukan sekadar simbol prestise, melainkan tanggung jawab moral untuk menjaga integritas keilmuan, melakukan penelitian yang bermanfaat, serta menghadirkan gagasan yang mampu memberikan pencerahan bagi masyarakat.
Karena itu, kehadiran sosok profesor muda dari Palanro ini diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga menjadi energi baru bagi kemajuan pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Barru.
(Syahruddin Cokkas)







